Ni Jirah Penyihir Hutan Kelabu

Ni Jirah Penyihir Hutan Kelabu

Dongeng Anak Oleh ika 5 hari yang lalu

Sinopsis

Orang desa bilang, kalau malam Jumat kamu dengar suara ranting patah tiga kali... lari. Itu Ni Jirah lagi jalan-jalan.


Katanya jubahnya bekas darah binatang. Katanya matanya bisa lihat dosamu dari kejauhan. Petani yang nebang pohon diam-diam besoknya menemukan kapaknya ngambang di sumur, karatan. Pemburu yang pasang jerat, pulang-pulang kakinya penuh bekas cakaran yang bentuknya kayak akar.


Arsa nggak percaya. Sampai dia tersesat pas ngejar kelincinya yang kabur ke Hutan Kelabu.



Kabut di sana aneh. Tebal, tapi cuma setinggi lutut. Jadi kalau kamu jalan, rasanya kayak nyebur di lautan susu. Dan di antara kabut, ada bisikan. Bukan suara manusia. Lebih kayak daun kering yang diinjak... padahal nggak ada angin.


"Arsa..."


Dia berhenti. Itu suara neneknya. Neneknya yang udah meninggal tahun lalu.


Dia lari. Semakin lari, pohon-pohon makin rapat. Akar-akarnya naik ke permukaan, melingkar kayak jari-jari yang manggil. Sampai akhirnya dia nyampe di istana itu. Bukan istana dari batu. Dindingnya kulit kayu hidup, bernafas pelan. Lampunya kunang-kunang yang terperangkap di getah.


Di singgasana akar, Ni Jirah duduk. Dia lagi nyisir rambut pakai tulang rusa. Di kakinya, serigala tiduran, tapi matanya manusia.



"Kamu nyari kelinci?" Ni Jirah noleh. Senyumnya lebar, tapi gigi taringnya terlalu panjang buat ukuran nenek-nenek.


Arsa mau jawab, tapi lidahnya kelu. Karena di belakang Ni Jirah, berjejer patung-patung. Patung orang. Ekspresinya beku pas teriak. Yang satu masih megang kapak. Yang satu tangannya ngangkat, kayak mau nangkis sesuatu.


"Mereka tamu yang nggak sopan," Ni Jirah ngelus satu patung. Suara batu bergesekan sama kukunya bikin bulu kuduk Arsa berdiri. "Datang nggak bawa apa-apa, pulangnya mau bawa semua."


Malam itu Arsa nggak diubah jadi batu. Nenek Jirah cuma nyuruh dia tidur di akar pohon. Mimpinya aneh. Dia mimpi jadi pohon. Seperti merasakan gergaji nyerempet kulit. Lalu seperti ada api mengelupas kulit. Sakit. Bangun-bangun, dahinya berkeringat.



"Gimana rasanya? seperti itulah pepohonan ketika manusia mulai serakah membabat hutan" kata Ni Jirah sambil memberi dia air. "Pulanglah... Sebelum aku berubah pikiran".


Sejak itu Arsa nggak lagi main ke hutan kalau cuma iseng. Dan anehnya, kalau ada orang desa mau nebang pohon buat alasan serakah, pasti mimpi buruk dulu. Mimpi jadi pohon. Mimpi ditusuk ribuan paku. Besoknya kapak mereka udah jadi debu.



Orang desa masih manggil Ni Jirah jahat. Tapi Arsa tahu kalau Ni Jirah, hanya ingin melindungi hutan Kelabu.

Tag

#dongeng #mitos #fantasi #horor #kebijaksanaan #penyihir

Komentar (0)

Tinggalkan Komentar

Silakan masuk untuk meninggalkan komentar.

Belum ada komentar untuk cerita ini.